Big News Times

Just another Blogger Template by Basnetg.com

Basnetg.com - Premium Blogger Templates

Dahlan “Nolak Angin’, Mahfud “Masuk Angin”

Published on: Senin, 01 Februari 2016 // ,
Iklan kalah dengan berita. Ini hanya contoh kecil dari logika yang harus dipikirkan orang iklan.
---Handoko Hendroyono---
Keinginan untuk menulis tentang bintang iklan Dahlan Iskan dalam iklan Tolak Angin sebetulnya sudah lama, persisnya saat saya melihat Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMD) era SBY nongol di layar kaca sebagai bintang iklan.  
Saya tergelitik menulis bukan hanya karena produk dan bintang iklannya, tetapi ada nuansa “peperangan” yang tergambar dalam iklan visual itu. Sebab sebelumnya produk itu sempat kalah ngetrend dengan iklan Bintang Toejoe yang bintang iklannya Bob Sadiono (Almarhum), seorang pengusaha kece yang sekarang dikenal dengan taglinenya yaitu orang bejo.
 
‘”Orang bejo’ ini berhasil menggeser tagline “orang pintar” milik Tolak Angin yang saat itu menggunakan endorser Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali sebagai representasi bintang iklan dari kalangan intelektual. Namun, pada suatu malam saya agak terkejut campur ketawa saat ada iklan Bintang Toejoe dengan bintang iklan mantan ketua Makhamah Konstitusi (MK), Mahfud MD. 
Dalam hati saya bertanya, apakah Mahfud MD ingin menunjukan kepada Dahlan bahwa dia juga bisa loh jadi bintang iklan. “Nih gue juga sekarang jadi bintang iklan. Emangnya cuma Lo yang bisa?,” kira-kira demikian kata Mahfud dalam imajinasi saya. Maklum, dua pejabat ini sudah pede dan tebar pesona untuk mengadu nasib dalam pemilihan presiden meski akhirnya tidak jadi. 

Pertanyaan kedua, apakah ini wujud “balas dendam” para pejabat Indonesia terhadap artis?. Sebab selama ini job pejabat banyak “diserobot” para seleberitis. Buktinya sekarang banyak artis yang menjadi pejabat publik. “Kalian serobot posisiku, sekarang gantian dong kita yang serobot job kalian,” pertanyaan imajiner saya untuk kali keduanya. Bagi Anda yang kagum dengan salah satu dari mereka mungkin akan bertanya kepada saya, memangnya salah pejabat jadi bintang iklan?. 
Perkaranya bukan salah atau tidak, tetapi masyarakat atau paling tidak saya akan bertanya apakah gaji mereka kurang sehingga harus mencari seseran sebagai bintang iklan?. Ini tidak perlu dijawab, karena pada hakikatnya publik sudah tahu bahwa itu adalah bagian dari promosi atau bahasa jawanya nyareat untuk jadi presiden. Kalau urusan duit mah mereka sudah pada level aktualisasi, tapi tidak tahu juga sih namanya juga manusia.

Menurut saya sih sah-sah saja mereka jadi bintang iklan, wong namanya juga nyareat. Masalah publik nanti simpatik atau sebaliknya itu bagian dari risiko mereka berdua yang harus ditanggung. Toh, mereka juga belum tentu bisa maju wong partai saja tidak punya. Apa mungkin nanti ada Partai Tolak Angin dan Partai Bintang Toejoe?. Dan benar juga keduanya hanya sebata tim sukses presiden, Mahfud ke Prabowo dan Dahlan ke Jokowi.
Indonesia itu serba bisa, he he he. Sebetulnya, ada satu pejabat lagi yang menjadi bintang iklan yaitu Marzuki Alie, waktu itu ketua DPR RI yang juga politisi Partai Demokrat. Marzuki menjadi bintang iklan Maspion. Dari sisi pencitraan, Dahlan memang lebih kuat mengingat dia adalah Big Bos Jawa Pos, yang saat ini memiliki kurang lebih 150 koran lokal dan stasiun televisi lokal. 

Dan media DI cukup massif melakukan sosialisasi pencapresan DI, tentu dengan dibungkus berbagai event seperti jalan sehat atau melalui acara-acara yang dibuat oleh korannya di daerah-daerah. Sementara Mahfud MD tidak memiliki media seperti DI. Meski tidak memiliki media, Mahfud sering nongol juga di media. 

Entahlah, siapa lagi pejabat negeri ini yang akan menjadi bintang iklan. Kalau sekarang pejabat jadi bintang iklan jamu dan kebutuhan rumah tangga, jangan-jangan nanti ada pejabat yang menjadi bintang iklan obat kuat atau iklan kondom. He he he, kalau ada beneran pasti ramai. Sebelum menutup tulisan ini, saya masih ada satu pertanyaan lagi untuk Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Marzuki Alie, berapa ya mereka dibayar sama perusahaan tersebut. Atau jangan-jangan gratis (tukar guling), perusahaan dapat bintang iklan baru sedangkan mereka dapat promosi gratis. 
 
Sebagai orang yang pernah belajar teori periklanan dan marketing communication di kampus, saya sedikit mengulas tentang iklan. Ingat sedikit loh! Sebab kalau ingin detail tentu akan saya tulis di lain kesempatan. Iklan adalah bagian dari komunikasi pemasaran yang digunakan pemasar untuk menjangkau konsumennya (Sandra Morarty,Nancy Mitchell dan William Wells).

Nah, mungkin para pejabat yang mulai nyambi bintang iklan ini berharap calon konsumen dalam hal ini pemilih bisa mengenal mereka berdua. Tetapi menurut saya mereka sudah cukup dikenal karena sering muncul di media. Perkiraan saya sih supaya publik terus ingat dengan mereka berdua saja.
Ketiga tahap tujuan iklan yaitu tahap introduction (pengenalan), fase ini biasanya dipakai untuk produk-produk baru. Level kedua adalah persuasif (mengajak) dan reminder (mengingatkan). Dalam beberapa kasus, iklan produk sering mengambil posisi “perang terbuka”. Sebut saja iklan XL yang dibintangi aktris cilik Boim diserang iklan Simpati dengan bintang iklan komedian Sule. Dalam salah satu kalimat di iklan tersebut, Sule mengatakan “jangan mau dibohongin anak kecil”, tentu ini diarahkan pada iklan XL. 

Atau iklan  Hits yang menyerang Baygon dengan bintang iklan Lula Kamal, dimana dalam iklannya Lula mengatakan, yang lebih mahal banyak. Lalu ada iklan Pepsi dengan Coca Cola, dimana dalam videonya seorang endorser (bintang iklan-red) menginjak kaleng untuk mengambil kaleng dengan merek lainnya. Dalam kasus dua pejabat itu saya tidak tahu apakah mereka memang sedang “perang terbuka” atau cuma demi uang semata-mata. Namun sepertinya pilihan pertama lebih masuk akal daripada pilihan kedua mengingat keduanya sama-sama memiliki uang.

Penulis:KARNOTO
CEO Banten Family Group



 

Iklan dan Dunia Politik

 

IKLAN politik di Indonesia relatif bersih karena tidak menyerang lawan seara pribadi. Berbeda dengan Amerika Serikat, dimana segala cara dilakukan termasuk mengungkit urusan pribadi lawan. 
~R Wiiliam Liddle~

Industri periklanan merupakan industri yang memiliki prospek. Hal ini dibuktikan dengan adanya fakta mengenai belanja periklanan yang naik dari tahun ke tahun. Menurut catatan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), pendapatan iklan nasional naik 24 persen dari Rp 13,4 triliun menjadi 16,7 triliun. Kenaikan pendapatan ini diikuti dengan jumlah perusahaan periklanan dimana terdapat 438 agensi dari jumlah sebelumnya yang hanya 217 agensi.

Dari jenis media iklan ternyata belanja iklan di media televisi dan cetak menjadi idola pemasang iklan. Mungkin karena dianggap lebih efektif dan jangkaunnya mememasuki seluruh lapisan masyarakat sehingga menguntungkan para pemasang iklan. Tercatat dana iklan banyak terserap di media televisi yaitu 62 persen, media cetak 30 persen dan radio 5 persen sedangkan sisanya diambil alih media outdoor seperti baliho, spanduk dan lain-lain.

Masih menurut catatan P3I, di tahun 2003 belanja sebesar Rp 18 trilun dan naik di tahun 2004 hingga mencapai 24 triliun. Jumlah ini terus mengalami kenaikan di tahun berikutnya yaitu Rp 30 triliun (2006) dan Rp 35 triliun (2007). Kenaikan cukup drastis terjadi di tahun 2008 dimana belanja iklan mencapai Rp 47 triliun dan terakhir di tahun 2009 kembali naik menjadi Rp 52 triliun. Dalam teori, ilmu periklanan adalah kegiatan mengkomunikasikan secara lengkap ide-ide atau gagasan penjualan produsen agar bisa diterima konsumen.

Secara umum periklanan memiliki fungsi memberi informasi, mempersuasi, mengingatkan, memberi nilai tambah dan mendampingi perusahaan. Dalam perkembangannya, periklanan bukan saja dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis tetapi sudah merambah ke arena politik di Indonesia. Hingar bingar politik iklan ini muncul dari negara modern Amerika Serikat saat pemilihan presiden, khususnya pada era George Bush yang dilanjutkan pada era Barack Obama.

Indonesia sebagai negara yang sedang belajar demokrasi pun meniru gaya Amerika. Peniruan ini dimulai saat Pilpres tahun 2004. Tak heran publik sering menyaksikan para politisi dan para calon presiden, gubernur, Bupati/wailkota yang nampang di layar televisi, koran maupun media outdoor. Dunia yang selama ini hanya dimiliki para artis.

Dilihat dari tujuannya, iklan yang dilakukan para calon dengan produsen sebuah produk, apakah itu coca cola, Martha tilaar ataupun Honda, tidaklah berbeda yaitu mengenalkan, memengaruhi dan memikat sehingga penikmat iklan mau memilih atau beragabung. Dan jangan salah biaya iklan para calon apakah itu presiden, gubernur dan Bupati/Wakilkota anggaran yang dikeluarkan cukup besar. Dalam pengantarnya di buku berjudul Iklan Politik karangan Akhmad Danial, R William Liddle, mengatakan bahwa perang iklan di Amerika Serikat cukup kasar karena antar kandidat saling serang untuk memojokan kandidat lain apapun itu kelemahannya.

William mencontohkan pada kasus tahun 1998 dimana George HW Bush menghantam lawannya yaitu Dukakis sebagai orang berpihak kepada kejahatan karena telah memberi kesempatan kepada salah satu pembunuh sehingga penjahat tersebut bebas. Dalam konteks iklan dan politik di Indonesia, publik mulai melihat gejala ini pada pemilihan presiden di tahun 2004 dimana pasangan SBY-JK sukses mengalahkan pasangan Mega-Hasyim. Dari sinilah mulai dikenal di kalangan masyarakat luas politik pencitraan.

Kemenangan SBY-JK tidak bisa dilepaskan dari peranan iklan ketika itu. Sejak itulah kata citra atau pencitraan begitu melekat dalam ingatan publik, khususnya kepada SBY-JK. Wajar jika kemudian belakangan SBY sering disindir sebagian masyarakat sebagai presiden pencitraan. Melihat kelezatan dan buah manis hasil dari pencitraan melalui iklan itulah SBY kembali maju pada pilpres berikutnya dan kembali menuai kesuskesan karena terpilih kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya.

Kesuksesan SBY dalam konteks pencitraan dalam iklan menjadi inspirasi para calon kepala daerah di seluruh Indonesia. Tak heran sejak saat itulah kita sering melihat para kandidat berakting di layar televisi ataupun media cetak. Terlepas dari apa pun motif para calon kepala daerah, legislatif maupun presiden memasang iklan, yang pasti periklanan telah menjadi industri yang menjanjikan bukan saja untuk kepentingan bisnis tapi juga kepentingan politik.

Dalam konteks Banten, beberapa bulan lagi akan digelar pemilihan Gubernur dan ini pasti menjadi ladang basah para pengusaha yang bergerak di bidang periklanan. Yang perlu diperhatikan para calon, masyarakat kian cerdas mengenai gaya kampanye melalui iklan karena sudah dua periode masyarakat telah melihat model komunikasi politik melalui iklan sejak SBY-JK menang pada pilpres 2004 lalu. Artinya, masyarakat tidak lagi menelan mentah-mentah atraksi para calon di berbagai media iklan tapi sudah mulai mencari tahu apakah betul apa yang dikatakan sang calon di dalam iklan. Disinilah peran konsultan “bermain” seperti yang pernah dilakukan Denny JA saat mendampingi SBY. (*)

Penulis KARNOTO
Adalah CEO Banten Family Group
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!