Big News Times

Just another Blogger Template by Basnetg.com

Basnetg.com - Premium Blogger Templates

Kunjungi Tangerang, Ini Pesan Risma Ke Pegawai Pemkot

Published on: Minggu, 07 Februari 2016 // ,

Tak ada angin, tak hujan, ini hanyala sebuah peribahasa. Waliko Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini, datang ke Kota Tangerang, Banten, pada Kamis (04/02/2016). Lalu apa pesan Risma saat menyambangi para ASN di Pemkot Tangerang?

"Sungguh kesempatan luar biasa kita bisa mendengarkan pengalaman beliau selama memimpin Kota Surabaya," Imbuhnya.
Selanjutnya, Risma pun dengan santai menyampaikan berbagai pengalamannya dalam mengurus Kota Surabaya."Bapak, Ibu jadi PNS itu beruntung banget, karena kalau mau beramal ya disini tempatnya," ucap Wali Kota Terbaik Dunia 2015.

"Karena kita (PNS) bisa berbuat dan bermanfaat untuk orang lain kapanpun," Sambungnya. Sosok Risma yang tampil dengan stelan baju batik dan kerudung khasnya seolah telah menghipnotis para peserta rapat yang merupakan para pejabat dari ess IV sampai Ess II di lingkup Pemkot Tangerang.

"Saat ini, persaingan itu bukan lagi Surabaya dengan Tangerang, atau Tangerang dengan Medan tapi kita saat ini bersaing dengan seluruh masyarakat Asean, kalau kita enggak bisa survive kita hanya akan jadi penonton," Paparnya.
"Apakah kita jadi penonton apa jadi pemenang tergantung kita (aparat)," tegasnya.

"Masyarakat tidak mau tahu bahwa kita telah kerja jungkir balik, tapi  mereka tahunya tidak ada banjir, tidak macet, sekolah enggak bayar, rumah sakit gratis. Makanya kalau di Surabaya, kalau saya ditanya puas atas apa yang sudah dicapai, saya tidak pernah puas," Imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Risma juga menyampaikan berbagai pengalamannya menata Kota Surabaya yang penduduknya 3 juta jiwa lebih. Selama lebih dari satu jam Risma bercerita bagaimana dia bersama jajarannya membuat berbagai aplikasi yang bertujuan untuk memudahkan pelayanan publik.

"Orang Surabaya itu aneh-aneh, kita sudah menggratiskan biaya kesehatan, namun ada ibu-ibu yang ngeluh biaya transportasi ke rumah sakit, namun mereka ternyata enggak kehilangan akal karena ambulans disana gratis akhirnya tiap kali mau periksa ke rumah sakit mereka itu pakai ambulans," ucapnya.

Risma juga bercerita mengenai pengalamannya membuat taman-taman kota. "Saya dulu sempet nutup taman karena dipakai pacaran, tapi sekarang taman sudah saya pasangi CCTV yang bisa nge-zoom sampai dalam mobil, jadi foto yang pacaran kita pajang sebagai sangsi sosial," tuturnya.

Seusai rapat, Risma ditemani Wali Kota Tangerang juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Taman Potret dan TPA Rawa Kucing, untuk kemudian menuju Bandara Soekarno Hatta untuk kembali ke Surabaya.


Sumber: tangerangnews.com

Alumnus Hukum Untirta Ini Digadang-gadang Calon Gubernur Asal Gerindra

Published on: Jumat, 05 Februari 2016 // ,
BANTENPERSPEKTIF-KOTA SERANG-Satu demi satu para calon Gubernur Banten mulai bermunculan. Setelah sebelumnya nama Andika Hazrumy, Anton Apriyantono, Zulkieflimansyah, Jayabaya, Rano Karno, Wahidin Halim, Tubagus Iman Ariyadi, Zaki Iskandar, Taufik Nuriman, Desi Ratnasary dan Yemmelia,  kini giliaran alumnus Pascasarjana Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Budi Heryadi, yang dikabarkan akan maju dari Partai Gerindra.

 Desas-desus majunya Budi sebetulnya sudah lama, persisnya ketika dinamika pendamping Rano Karno sebagai Wakil Gubernur Banten berhembus. Namun entah mengapa Budi gagal mendampingi Rano sebagai orang nomor dua di Banten. Budi merupakan Ketua DPD Gerindra Banten, ia memiliki latarbelakang pengusaha. Profesi ini sejalan dengan latarbelakang akademiknya, dimana ia merupakan Sarjana Ekonomi di STIE Bisnis Indonesia, Jakarta (2003) dan melanjutkan S2 di Untirta Banten.

Budi merupakan anggota DPR RI dan standby di Komisi  IV yang mengurusi masalah pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan,dan panganSeperti apa sosok Budi Heryadi, berikut profil singkatnya.

PENDIDIKAN
  • Sarjana Ekonomi di STIE Bisnis Indonesia, Jakarta (2003)
  • Sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang (2006)

KARIR
  • Direktur PT Karya Jaya Kurnia (1984-1985)
  • Manager PT Kartika Indotelsi (1984-1985)
  • Direktur CV Ganesa Citra Buana (1986-1995)
  • Manager CV Royco Putra (1986-1995)
  • Direktur Utama PT Medarya Menara Lestari (1996-2008)
  • Direktur PT Ganiras Perkasa (1996-2008)
  • Komisaris PT Dita Putri Waranawa (1996-2008)
  • Direktur CV Bintang Idola (1996-2008)



Menebak Atraksi Politik Masrori; Dari Pertemuan Tokoh Sampai Gerakan Satu Juta Kader

Published on: //
Kepemimpinan dalam sebuah organisasi tak sekadar menjadi simbol administratif semata, namun juga menjadi ikon atraktifitas sebuah organisasi apalagi kalau itu sebuah partai politik. Jika sebuah partai dikendalikan seorang ketua yang "sehat" maka ranting, dahan organisasi pun akan menjadi sehat. 

Inilah yang sedang ditunjukan oleh Masrori, sosok pemuda yang akhir-akhir ini begitu lincah dan atraktif. Bahkan, alumnus Universitas Lampung, ini begitu gigih mengejar target satu juta kader di Banten. 

Dalam berbagai kesempatan, Masrori selalu menggaungkan gerakan satu juta kader di Banten. Entah kalkulasi seperti apa yang ada dibenak anggota DPRD Kabupaten Serang ini sehingga harus merujuk pada angka satu juta kader. Pantaun Banten Perspektif (Banten Family Group), Masrori cukup lincah dan atraktif dalam memainkan momentum.

Momentum Pilkada akhir 2015 misalnya, Masrori langsung memboyong petinggi partai berlambang matahari ini ke Banten untuk bisa memberikan semangat kepada para kader PAN di Banten. Sepertinya, momentum Pilkada Banten 2017 juga akan menjadi medan untuk lebih atraktif. Sebagai politisi, momentum pemilihan Gubernur Banten tentu menjadi "pertaruhan" bagi Masrori sebagai nahkoda PAN. 

Bukan masalah positioning ia sebagai ketua, namun mengukur ketajaman analisa dalam momentum tersebut sehingga memberikan keputusan yang tepat, kendati tetap saja DPP punya hak veto. Namun paling tidak sebagai pimpinan partai di wilayah, Masrori dituntut memiliki ketajaman dan sensitifitas terhadap dinamika politik yang berkembang.

Ia juga rajin beselancar di sosial media, memberikan "nasehat" kepada followersnya termasuk mengupload foto-foto dari lawatan politiknya ke sejumlah elit partai. Baru-baru ini ia ngopi bareng bersama elit partai Islam, yaitu Setiawan, Ketua DPW PPP Banten dan GR Sumedi, Sekretaris Umum DPW PKS Banten.

Selang beberapa jam, ia pun kembali mengupload foto dirinya bersama Ketua Umum DPP PAN, mantan Bupati Serang Taufik Nuriman dan Rektor IAIN SMH Banten. Meski dibungkus dengan isu pendidikan, namun publik juga sudah mengerti kalau seorang politisi berkumpul pasti ya ada "udang di balik rempeyek". 

Sosial media memang menjadi arena baru bagi masyarakat modern, tak terkecuali para politisi. Maklum saja, medan ini lebih interaktif, ngirit dan bisa mendapat respon publik secara bersamaan. Meskipun pertemuan antar tokoh yang diupload bukan menjadi bukti bahwa hal itu sebuah kesepakatan, tapi paling tidak opini publik akan "dipaksa" membaca arah permainan PAN dibawah kendali Masrori. 

Kemana arah dukungan PAN pada Pilgub Banten? publik masih menunggu karena sampai saat ini lobi dan tarik ulur masih dilakukan oleh semua partai, tak terkecuali PAN. Apakah PAN akan memilih zona nyaman dengan "menginfakan" kursi dan suaranya ke calon yang dianggap kuat atau Masrori "berani" membuat poros sendiri sehingga "taringnya" sebagai politisi muda semakin diakui? Yang tahu hanya Masrori dan Tuhan saja.

Tim Redaksi Banten Perspektif (Banten Family Group)

Anton Apriyantono; Semua Bermula Dari Kesederhanaan

Published on: Senin, 01 Februari 2016 //

Anton Kecil Dari Keluarga Sederhana
Satu hal yang melekat pada sosok nama besar Anton Apriyantono, yaitu kesederhaan. Sepanjang hidupnya, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa awal hingga menjadi pejabat sebagai Menteri Pertanian di era SBY, Anton memang dikenal menteri yang terkenal sederhana. Kesederhaannya bukan sengaja dibranding, melainkan watak asli pria kelahiran Kota Serang, 5 Oktober 1959. Masa kecil Anton dihabiskan di Kota Serang. Anak dari pasangan (Alm) Peltu Sumardi, veteran TNI Angkatan Udara dan (Alm) Rum Syarah menikmati kesederhanaan dari kedua orangtuanya. 


Anton merupakan anak ke-4 dari delapan bersaudara ini merupakan alumus SMA N 1 Kota Serang, sekolah favorit di Serang hingga saat ini. Sebelumnya ia menamatkan jenjang sekolah tingkat pertama di SMP Negeri 2 Serang, sedangkan tingkat dasar ia tamatkan di SD Negeri 3 Serang. Sementara untuk taman kanak-kanak ia selesaikan di TK di Taman Kanak-Kanak Garuda yang dibangun oleh Kodim 0602. 
Sebagai keluarga sederhana, Anton sadar betul bahwa ada problem utama yang ia hadapi yaitu masalah keuangan. Jalan satu-satunya untuk bisa menikmati pendidikan tinggi adalah harus pintar. Kerja keras, gigih dan ulet pun ia lakoni dengan kenikmatan. Beruntung Anton memiliki orangtua yang mengajarkan nilai-nilai tersebut sehingga mengakar menjadi watak dan pribadi Anton hingga saat ini. 
Selama sekolah Anton memang memiliki kelebihan dibandingkan siswa lainnya. Di sekolah Anton selalu mendapatkan prestasi yang sangat luar biasa. Bahkan ia pernah menjadi bintang pelajar karena nilai akhirnya terbaik untuk kabupaten Serang (Sebelum ada pemekaran Kota Serang). Usai lulus dari SMA N Kota Serang, Anton melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor ((IPB). Di kampus ternama ini, Anton mendapat perlakuan khusus karena kepintarannya. 
Ia masuk ke IPB melalui jalur undangan. Jalur ini merupakan pintu masuk paling bergengsi ketika itu, tak heran kakak-kakak kelas Anton dari sekolah yang sama banyak yang gagal di tahun pertama perkulihan. Meski anak cerdas, namun hobi Anton boleh dikatakan tidak linear dengan anak pintar pada umumnya, dimana Anton justru memiliki hobi naik gunung, memancing dan photograpi. 
Dan hobi tersebut masih ia lakukan hingga saat ini, terutama pasca ia tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pertanian. Hobi inilah yang membuat Anton banyak disukai kawan-kawannya, karena ia pandai bergaul dan memiliki semangat berbagi. Semasa kecil Anton juga doyan ke masjid, bahkan ia sering tidur di masjid terutama di bulan Ramadhan. Masjid yang ia setiap hari ia ‘tumpangi” adalah masjid di belakang Hotel Le Dian, Kota Serang.
Rilis dari : Humas DPW PKS Banten

Ridwan Kamil: Sosok Walikota Bandung yang Menginspirasi

Published on: Minggu, 31 Januari 2016 // ,
 
Kamu sadar nggak, bahwa Indonesia ternyata punya beberapa tokoh walikota yang inspiratif? Salah satunya sosok muda dari Bandung ini yang bernama Pak Ridwan Kamil.
Selama ini, sosok Ridwan Kamil dikenal oleh warga Bandung sebagai seorang arsitek lulusan ITB yang melanjutkan studi S2-nya di jurusan Urban Design di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Beliau telah banyak berkarya dalam bidangnya. Museum Tsunami di Aceh adalah salah satunya.


Ada juga arsitektur Masjid Al-Irsyad yang sangat indah di pinggiran kota Bandung. Selain itu, beliau pula lah yang menjadi penggerak Bandung Creative Community Forum (BCCF) selama 10 tahun terakhir ini. BCCF sendiri merupakan sebuah wadah anak muda Bandung yang juga telah mengadakan acara-acara berskala besar di Bandung.


Nah, baru pengenalan singkat saja, Ridwan Kamil sudah terdengar keren karena berbagai prestasinya. Yuk, kita kenal beliau lebih jauh!

BIODATA SINKAT

Nama : Mochamad Ridwan Kamil
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 4 Oktober 1971
Agama         : Islam
Istri         : Atalia Praratya Kamil
Anak : Camillia Laetitia Azzahra & Emmiril Khan Mumtadz


Profesi:
Prinsipal PT. Urbane Indonesia
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung
Walikota Bandung

Pendidikan:
SDN Banjarsari III Bandung (1978-1984)
SMP Negeri 2 Bandung (1984-1987)
SMA Negeri 3 Bandung (1987-1990)
Sarjana S-1 Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (1990-1995)
Master of Urban Design University of California, Berkeley (1999-2001)

Penghargaan:
2004 Winner of International Design Competition Islamic Center, Beijing, RRC
2005 Winner of International Design Competition Waterfront Retail Masterplan, Suzhou, RRC
2005 Winner of International Design Competition Kunming Tech Park, Kunming, RRC
2006 Winner Internatonal Young Design Entrepreneur of The Year versi British Council Indonesia
2007 Winner of International Design Competition for Aceh Tsunami Museum
2008 Top Ten Architecture Business Award dari BCI Asia
2009 Top Ten Architecture Business Award dari BCI Asia
2009 Architect of The Year dari Elle Decor Magazine
2012 Salah satu Ikon Perubahan versi Majalah Gatra
2012 Pikiran rakyat Award untuk Tokoh Muda Kreative
2012 Google Chrome Web Heroes untuk Indonesia Berkebun
2012 Indonesia Green Award, Penghargaan Penginspirasi Bumi untuk Indonesia Berkebun.
2013 Urban Leadership Award. Penn Institute for Urban Research, USA.


MASA KECIL

Mochamad Ridwan Kamil lahir di Bandung, 4 Oktober 1971 dari pasangan Dr. Atje Misbach, S.H. (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih. Ayah beliau merupakan Doktor Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, sedangkan ibu beliau adalah dosen Farmasi UNISBA dan staf ahli di LPPOM MUI Jawa Barat. Lelaki yang akrab disapa ‘Kang Emil’ ini adalah anak ke-2 dari 5 bersaudara. Darah Sundanya berasal dari kedua orang tuanya; ayahnya asli Subang, ibunya dari Tasikmalaya, dan kedua kakeknya berasal dari Situ Bagendit, Garut.

Ridwan Kamil diasuh dengan nasihat untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Moral dan etika juga dijunjung tinggi menjadi nilai utama yang diajarkan ayah beliau yang merupakan keturunan Kiai Muhyidin yang dikenal dengan Mama Pagelaran pendiri 3 pesantren di Sumedang dan Subang, serta pamannya, KH Atang Abdul Quddus (alm), imam Masjid Agung Subang serta ketua MUI Kabupaten Subang. Ridwan Kamil sendiri pernah nyantri di Pesantren Pagelaran III yang dipimpin oleh pamannya, K.H. Oom Abdul Qoyyum (alm).

Sejak kecil, Ridwan Kamil hidup dalam kesederhanaan layaknya masyarakat lain. Sarapan hanya dengan menu telur dadar yang dibagi rata dengan keempat saudaranya. Kalau mau berangkat sekolah, beliau naik angkot dari Dago ke sekolahnya, tak jarang juga jalan kaki. Sejuk dan asrinya Jalan Haji Juanda saat itu membuat jarak Dago Timur - Merdeka serasa dekat.

Pendidikannya dimulai dengan belajar membaca, berhitung, dan bermain di TK Aisyiah, Jalan Dago Barat, Bandung. Kemudian, beliau melanjutkan sekolahnya di SDN Banjarsari III Bandung dari tahun 1978-1984. Ridwan Kamil suka berimajinasi sejak masa kecil. Beliau juga senang membaca komik serta melihat foto-foto berbagai kota di luar negeri. Sejak kecil pula, beliau memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi. Ketika sekolah dasar pun, beliau sempat jualan es mambo buatannya sendiri.

Selama bersekolah, Ridwan Kamil dikenal sebagai sosok yang aktif dan cerdas. Setelah tamat sekolah dasar, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 2 Bandung. Di sekolah ini, Ridwan Kamil mulai belajar berorganisasi. Selain belajar, beliau aktif di OSIS dan Pramuka.
Kegiatan ini tidak menghalanginya untuk menjadi bintang kelas, justru memberikan pengalaman dan pengetahuan yang menjadi bekal jiwa kepemimpinannya ketika dewasa. Walaupun kegiatan non-akademisnya banyak, beliau selalu masuk dalam rangking 5 besar di kelasnya. Sekolahnya belanjut di SMA Negeri 3 Bandung, dari tahun 1987 hingga 1990.


PERKULIAHAN 

Begitu tamat SMA, Ridwan Kamil melanjutkan pendidikan tingginya di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung dari tahun 1990-1995. Semasa kuliah, beliau aktif dalam kelompok-kelompok mahasiswa dan unit kegiatan seni. Semangat kewirausahaannya bangkit lagi di kampusnya. Untuk mencari tambahan uang kuliah, beliau membuat gambar-gambar ilustrasi dengan cat air atau maket untuk dosen.

Pada masa pengerjaan tugas akhir, ayah beliau wafat. Hal itu menjadi tahun terberat dalam sejarah hidup beliau. Namun, berkat tekad beliau yang kuat dan kemampuannya untuk memotivasi diri sendiri, beliau mendapatkan nilai A++.
Lulus dari ITB, beliau sempat mengabdi selama beberapa tahun dengan mengajar di almamaternya, hingga kemudian memutuskan untuk bekerja di Amerika Serikat. Karirnya di Amerika hanya bertahan sekitar 4 bulan saja, sebelum akhirnya beliau berhenti kerja akibat terkena dampak krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu, sehingga membuat klien tidak membayar pekerjaannya.

Beliau tidak langsung pulang ke Indonesia dan bertahan di Amerika sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa di University of California, Berkeley, dalam bidang tata kota, mulai tahun 1999 hingga 2001. Sambil kuliah S2 di universitas tersebut, beliau bekerja paruh waktu di Departemen Perencanaan Kota Berkeley untuk bertahan hidup di sana. Beliau cuma makan sekali sehari dengan menu murah seharga 99 Sen.
Perjuangan seorang Ridwan Kamil untuk bertahan hidup di Negeri Paman Sam terus diuji ketika istrinya, Atalia Praratya akan melahirkan anak pertama mereka. Saat itu, Ridwan tak memiliki uang untuk membiayai persalinan istrinya, sehingga beliau harus mengaku miskin pada pemerintah kota setempat demi mendapatkan pengobatan gratis. 
Akhirnya, beliau pun menemani sang istri melahirkan di sebuah rumah sakit khusus untuk orang-orang miskin, tepatnya di bangsal rumah sakit. Bagi Ridwan sendiri, pengalaman jatuh – bangun hidupnya membentuk nilai-nilai tersendiri tentang betapa kerasnya perjuangan hidup.

Pada tahun 2002, Ridwan Kamil pulang ke tanah kelahirannya Indonesia, dan 2 tahun kemudian mendirikan ‘Urbane’ yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain.


KARIER

Setelah menuntaskan pendidikannya di Amerika, Ridwan Kamil bekerja di firma arsitektur di Amerikan Hongkong. Di Amerika, beliau akhirnya berhasil meraih kehidupan yang layak. Tapi, ibu beliau menasihati :
"Ari neangan duitmah engke aya gantina, ari minterkeun batur tidak akan terukur nilaina.” (Kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, kalau memintarkan orang lain tidak terukur nilainya). 
Mendengar nasihat sang ibunda itulah, beliau pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Bandung. Beliau kembali ke ITB untuk menjadi dosen di Departemen Arsitektur ITB. Bersama mahasiswa dari jurusan Rancang Kota, Desain Produk, dan Elektro ITS, beliau menciptakan Enerbike, sebuah sepeda yang dirancang untuk menghasilkan listrik / sepeda penghasil listrik.

Bersamaan dengan itu, Ridwan juga mendirikan firma arsitektur bernama Urbane. Firma ini dibangun pada tahun 2004 bersama teman-temannya seperti Achmad D. Tardiyana, Reza Nurtjahja, dan Irvan W. Darwis. Urbane sendiri merupakan singkatan dari Urban Evolution, atau bisa juga dibilang singkatan dari Urang Bandung Euy.
Melalui perusahaannya inilah, beliau menggarap berbagai proyek baik itu di Indonesia maupun mancanegara. Konsep arsitektur yang diusung adalah “green system”, yang responsif terhadap lingkungan serta nilai artistik, sehingga menjadikan firma ini masuk dalam daftar 10 firma arsitektur terbaik di Indonesia.

Sekarang, Ridwan Kamil aktif menjabat sebagai Prinsipal PT Urbane Indonesia, dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, serta senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Fransisco), dan SAA (Singapura).
Bicara mengenai reputasi pun jangan ditanya lagi. Reputasi internasional telah mereka raih dengan mengerjakan proyek-proyek di luar Indonesia seperti Syria Al-Noor Ecopolis di Syria dan Suzhou Financial District di China. Tim Urbane sendiri terdiri dari para profesional muda yang kreatif dan idealis dalam mencari dan menciptakan solusi mengenai masalah desain lingkungan dan perkotaan.
Urbane juga memiliki proyek yang berbasis komunitas dalam Urbane Proyek Komunitas, di mana visi dan misinya adalah membantu orang-orang dalam sebuah komunitas perkotaan untuk memberikan donasi serta keahlian-keahlian dalam meningkatkan potensi daerah sekitarnya.

Melalui firma arsitektur Urbane, karya-karya Ridwan Kamil tersebar di berbagai daerah seluruh nusantara dan mancanegara. Mulai dari masjid yang terbuat dari batako berbahan abu letusan Gunung Merapi, Musium Tsunami di Aceh, sekolah anti-gempa di Pangalengan Bandung, kawasan elit di Kuningan Jakarta, Superblok di Cina, hingga sebuah rancangan kawasan di Syria.

Lebih dari 20 penghargaan yang berhubungan dengan karya arsitektur dan tata kota telah beliau raih, baik itu anugerah penghargaan dari media nasional maupun internasional, seperti BCI Asia Awards 3 tahun berturut-turut pada 2008, 2009, 2010 dan juga BCI Green Award pada tahun 2009 atas proyek desain Rumah Botol (dari botol bekas).

Rancangan Masjid Al-Irsyad yang beliau persembahkan untuk almarhum ayahnya mendapatkan Top 5 Best Building of The Year 2010 oleh ArchDaily, dan menjadi salah satu dari 25 masjid terindah di dunia versi Complex Magazine.

Bukan hanya berkarya dan kaya akan penghargaan saja, Urbane juga sering mengikuti kompetisi di bidang desain arsitektur tingkat nasional dan menjadi juara. Contohnya adalah Juara 1 Kompetisi Desain Musium Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2007, Juara 1 Kompetisi Desain Kampus 1 Universitas Tarumanegara pada tahun 2007, Juara 1 Kompetisi Desain Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia pada tahun 2009, Juara 1 Kompetisi Desain Sanggar Nagari di Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat, dan Juara 1 Kompetisi Desain Pusat Seni dan Sekolah Seni di Universitas Indonesia pada tahun 2009.

Pada bulan Maret, Ridwan Kamil menjadi salah satu di antara 2 orang yang mendapatkan penghargaan “Urban Leadership Award” Universitas Pennsylvania. Mereka terinspirasi kinerja dan kreatifitas Ridwan Kamil dalam membangun kota dengan menggerakkan partisipasi komunitas dan warga.
Penerima penghargaan satunya adalah Walikota Barcelona. Penghargaan ini melengkapi 35 penghargaan lain yang telah dia raih dalam 9 tahun terakhir. Beliau telah menjelajahi 100 kota di dunia. Beliau banyak mengamati dan mempelajari bagaimana manusia dari berbagai belahan dunia membangun peradaban, merancang, dan memelihara kota mereka.

Bahkan beliau terlibat dalam menata ulang sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara. Karya-karya beliau telah dihargai di mata dunia. Oleh karena itu, sekarang mari kita beri kesempatan pada beliau untuk mengabdikan jiwa dan ilmunya bagi tanah ibu pertiwi.
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!