Big News Times

Just another Blogger Template by Basnetg.com

Basnetg.com - Premium Blogger Templates

Siapkan Serangan Udara, Sejumlah Calon Gubernur Dirikan "Pangkalan" di Dunia Maya

Published on: Jumat, 05 Februari 2016 // ,

BANTENPERSPEKTIF, BANTEN- Medan dunia maya sepertinya bakal menjadi "markas" baru bagi para tim sukses untuk melakukan pertahanan sekaligus serangan menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2017 mendatang. Pantauan Banten Perspektif, sudah ada sejumlah nama calon Gubernur Banten yang sudah mendirikan "markas" di dunia maya.

Sebut saja, Andhika Hazrumy dengan nama pangkalannya Group Andhika Hazrumy. Putera sulung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, ini telah mendirikan "pangkalan" . Bahkan saat disearch group Andhika terdapat lima pangkalan. Entah resmi atau tidak, pangkalan tersebut memasang pic Andika dan terdapat sejumlah foto-foto kegiatan Andika. Andika memang sedang dibranding sebagai sosok pemuda yang berkarya dengan taglinenya I Love AA "Mari Bersama Berkarya". Sementara itu, Anton Apriyantono, calon Gubernur Banten dari Partai Keadilan Sejahera juga telah mendirikan pangkalannya dengan nama Teman Anton.

Ta ketinggalan nama Wahidin Halim, anggota DPR RI dari Partai Demokrat sekaligus mantan Walikota Tangerang dengan nama pangkalan Gerakan Perubahan Banten. Pangkalan ini memasang pic WAH yang mengenakan baju koko putih dan berpeci hitam. Pangkalan-pangkalan di dunia maya dalam setiap momentum politik lima tahun terakhir memang cukup masif. 

Bermula dari kemenangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada periode pertama lalu dipaste oleh SBY dan sampai sekarang hampir setiap momentum politik semua calon membuat pangkalan dunia maya. Bahkan pertempuran di dunia maya pada Pilpres kemarin antara Jokowi dan Prabowo lebih sengit dan menegangkan daripada pertempuran di darat. Otomatis masing-masing calon memilih memperkuat pasukan cyber untuk mendesak benteng pertahanan lawan.

Apakah pada momentum Pilkada Banten 2017 ini akan terjadi hal serupa? prediksi kami pasti akan terjadi juga sebagaimana pernah terjadi di Pilpres. Pangkalan politik di dunia maya tentu berbeda dengan pangkalan militer seperti yang kita dengar selama ini, dimana pangkalan dunia maya untuk urusan politik lebih terbuka dan siapapun bisa masuk ke pangkalan orang lain.

Tim Redaksi Banten Perspektif (Banten Family Group)

Iklan dan Dunia Politik

Published on: Senin, 01 Februari 2016 // ,
 

IKLAN politik di Indonesia relatif bersih karena tidak menyerang lawan seara pribadi. Berbeda dengan Amerika Serikat, dimana segala cara dilakukan termasuk mengungkit urusan pribadi lawan. 
~R Wiiliam Liddle~

Industri periklanan merupakan industri yang memiliki prospek. Hal ini dibuktikan dengan adanya fakta mengenai belanja periklanan yang naik dari tahun ke tahun. Menurut catatan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), pendapatan iklan nasional naik 24 persen dari Rp 13,4 triliun menjadi 16,7 triliun. Kenaikan pendapatan ini diikuti dengan jumlah perusahaan periklanan dimana terdapat 438 agensi dari jumlah sebelumnya yang hanya 217 agensi.

Dari jenis media iklan ternyata belanja iklan di media televisi dan cetak menjadi idola pemasang iklan. Mungkin karena dianggap lebih efektif dan jangkaunnya mememasuki seluruh lapisan masyarakat sehingga menguntungkan para pemasang iklan. Tercatat dana iklan banyak terserap di media televisi yaitu 62 persen, media cetak 30 persen dan radio 5 persen sedangkan sisanya diambil alih media outdoor seperti baliho, spanduk dan lain-lain.

Masih menurut catatan P3I, di tahun 2003 belanja sebesar Rp 18 trilun dan naik di tahun 2004 hingga mencapai 24 triliun. Jumlah ini terus mengalami kenaikan di tahun berikutnya yaitu Rp 30 triliun (2006) dan Rp 35 triliun (2007). Kenaikan cukup drastis terjadi di tahun 2008 dimana belanja iklan mencapai Rp 47 triliun dan terakhir di tahun 2009 kembali naik menjadi Rp 52 triliun. Dalam teori, ilmu periklanan adalah kegiatan mengkomunikasikan secara lengkap ide-ide atau gagasan penjualan produsen agar bisa diterima konsumen.

Secara umum periklanan memiliki fungsi memberi informasi, mempersuasi, mengingatkan, memberi nilai tambah dan mendampingi perusahaan. Dalam perkembangannya, periklanan bukan saja dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis tetapi sudah merambah ke arena politik di Indonesia. Hingar bingar politik iklan ini muncul dari negara modern Amerika Serikat saat pemilihan presiden, khususnya pada era George Bush yang dilanjutkan pada era Barack Obama.

Indonesia sebagai negara yang sedang belajar demokrasi pun meniru gaya Amerika. Peniruan ini dimulai saat Pilpres tahun 2004. Tak heran publik sering menyaksikan para politisi dan para calon presiden, gubernur, Bupati/wailkota yang nampang di layar televisi, koran maupun media outdoor. Dunia yang selama ini hanya dimiliki para artis.

Dilihat dari tujuannya, iklan yang dilakukan para calon dengan produsen sebuah produk, apakah itu coca cola, Martha tilaar ataupun Honda, tidaklah berbeda yaitu mengenalkan, memengaruhi dan memikat sehingga penikmat iklan mau memilih atau beragabung. Dan jangan salah biaya iklan para calon apakah itu presiden, gubernur dan Bupati/Wakilkota anggaran yang dikeluarkan cukup besar. Dalam pengantarnya di buku berjudul Iklan Politik karangan Akhmad Danial, R William Liddle, mengatakan bahwa perang iklan di Amerika Serikat cukup kasar karena antar kandidat saling serang untuk memojokan kandidat lain apapun itu kelemahannya.

William mencontohkan pada kasus tahun 1998 dimana George HW Bush menghantam lawannya yaitu Dukakis sebagai orang berpihak kepada kejahatan karena telah memberi kesempatan kepada salah satu pembunuh sehingga penjahat tersebut bebas. Dalam konteks iklan dan politik di Indonesia, publik mulai melihat gejala ini pada pemilihan presiden di tahun 2004 dimana pasangan SBY-JK sukses mengalahkan pasangan Mega-Hasyim. Dari sinilah mulai dikenal di kalangan masyarakat luas politik pencitraan.

Kemenangan SBY-JK tidak bisa dilepaskan dari peranan iklan ketika itu. Sejak itulah kata citra atau pencitraan begitu melekat dalam ingatan publik, khususnya kepada SBY-JK. Wajar jika kemudian belakangan SBY sering disindir sebagian masyarakat sebagai presiden pencitraan. Melihat kelezatan dan buah manis hasil dari pencitraan melalui iklan itulah SBY kembali maju pada pilpres berikutnya dan kembali menuai kesuskesan karena terpilih kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya.

Kesuksesan SBY dalam konteks pencitraan dalam iklan menjadi inspirasi para calon kepala daerah di seluruh Indonesia. Tak heran sejak saat itulah kita sering melihat para kandidat berakting di layar televisi ataupun media cetak. Terlepas dari apa pun motif para calon kepala daerah, legislatif maupun presiden memasang iklan, yang pasti periklanan telah menjadi industri yang menjanjikan bukan saja untuk kepentingan bisnis tapi juga kepentingan politik.

Dalam konteks Banten, beberapa bulan lagi akan digelar pemilihan Gubernur dan ini pasti menjadi ladang basah para pengusaha yang bergerak di bidang periklanan. Yang perlu diperhatikan para calon, masyarakat kian cerdas mengenai gaya kampanye melalui iklan karena sudah dua periode masyarakat telah melihat model komunikasi politik melalui iklan sejak SBY-JK menang pada pilpres 2004 lalu. Artinya, masyarakat tidak lagi menelan mentah-mentah atraksi para calon di berbagai media iklan tapi sudah mulai mencari tahu apakah betul apa yang dikatakan sang calon di dalam iklan. Disinilah peran konsultan “bermain” seperti yang pernah dilakukan Denny JA saat mendampingi SBY. (*)

Penulis KARNOTO
Adalah CEO Banten Family Group

Dibranding Pemuda Berkarya, Tagline 'I Love AA" Andika Disebar

BANTENPERSPEKTIF-KOTA SERANG-Nama Andika Hazrumy bagi masyarakat Banten, khususnya di Serang, Cilegon, Pandeglang dan Lebak, sudah tidak asing lagi. Maklum saja, Andika adalah putera kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah sekaligus anggota DPD RI.

Sejumlah posisi dipegang olehnya, diantaranya Ketua Karang Taruna Propinsi Banten. Kini Andika pun digadang-gadang akan meramaikan bursa pemilihan Gubernur Banten 2017. Meski belum ada keputusan resmi dari Partai Golkar, namun para relawan Andika sudah gerilya terutama melalui media billboard, jejaring sosial dan media mainstream.

Tim atau relawan sepertinya sedang membranding Andika sebagai tokoh pemuda yang memiliki banyak karya dengan tagline I Love AA. Tagline ini mengisyaratkan kalau Andika banyak disukai warga di Banten, khususnya anak-anak muda. 

Selain memiliki wajah tampan, Andika memang tergolong politisi muda sehingga sebagian masih ada yang menyangsikan dan memberikan nasehat agar Andika cukup menjadi Wakil Gubernur Banten, baru setelah itu ia mencalonkan Gubernur Banten karena sudah ada pengalaman satu periode.
 
Bagi Anda yang melintasi sejumlah titik di Kota Serang, seperti kawasan Kemang, Pakupatan dan sejumlah titik lainnya pasti akan melihat dengan jelas billboard I Love AA terpasang. Bahkan di Kemang ada dua space billboard dengan model vertikal dipasang billboard I Love AA.

Di Balik Kemenangan Airin di Pilkada Kota Tangsel

 

BANTENPERSPEKTIF-TANGERANG SELATAN-Sebagian besar publik di luar Kota Tangerang Selatan, Banten, pasti menduga kalau kemenangan Airin Rachmi Diany adalah karena soal fulus semata. Namun setelah digali ternyata penentunya bukan faktor amunisi semata, namun ada hal lain yaitu personal branding yang didesain oleh tim sukses Airin.

Kalau melihat faktor fulus jelas harta Airin berkurang jika dibandingkan dengan masa Pilkada sebelumnya. Dalam catatan resmi yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Banten dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) 10 calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah se-Banten. Airin Rachmi Diany (Calon Wali Kota Tangsel) sesuai dengan laporan terakhir tertanggal 23 Juli 2015 memiliki kekayaan senilai Rp 84,005 miliar.

Jumlah harta kekayaan tersebut menurun setelah suaminya Tb Chairi Wardana tersangkut tindak pidana korupsi. Sebelumnya, berdasarkan LHKPN pertanggal 24 Agustus 2010, Airin mempunyai kekayaan Rp103 miliar. Kondisi Airin juga sedang dalam terpaan yang begitu hebat, dimana Tb Chairi Wardana, sang suami masih dalam penjara karena tersangkut pidana. Sementara kaka ipar yang tak lain adalah mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah juga sedang dipenjara.


Lalu apa yang menyebabkan Airin masih unggul di tengah kondisi seperti itu? Jawabannya adalah personal branding Airin. Airin didesain sebagai wanita dari keturunan baik-baik, Airin adalah korban, Airin adalah sosok ibu yang perlu mendapat simpati dan iba karena tabah di tengah terpaan yang begitu hebat. Semakin ada pihak yang menyerang Airin maka sesungguhnya itu yang menjadi "harapan" karena akan semakin menumbuhkan rasa simpatik terhadap Airin.

Selain itu, personality Airin secara fisik juga mendukung. Airin cantik, bertutur lemah lembut dan lebih tenang ketika menghadapi berbagai terpaan. Hal ini wajar mengingat Airin adalah mantan finalis Puteri Indonesia, dimana biasanya pada proses karantina para finalis dididik tentang etika, atitued dan keterampilan keperibadian lainnya.
Airin tak pernah menyerang lawannya yang melakukan serangan bertubi-tubi, ia dan dibantu tim justru terkesan mengharapkan hal itu karena peluru itu justru yang sebetulnya bisa menjadi senjata makan tuan bagi orang yang meluncurkan peluru tersebut. Jika dikaitkan dengan aspek psikologi pemilih Indonesia, fenomena ini terjadi berulang-ulang kali. 

Masih ingat dengan SBY yang ketika itu dibranding sebagai tentara ganteng yang layak mendapat simpatik karena "diusir" dari Megawati? atau teranyar Jokowi yang dikesankan mendapat serangan, seperti keturunan China, beragama non Islam dan  lainnya. Namun lagi-lagi itu justru yang kemudian dikelola oleh tim dan menjadi peluang untuk mendapatkan simpati dari pemilih. 

Strategi marketing seperti ini sebetulnya sudah sering dilakukan oleh produk komersial. Jika Anda pernah membaca kisah salah satu produk yang mendapat protes dan keluhan dari seorang customer, karena dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi. 

Sang konsumen menuliskan kisah buruknya ke relasinya sehingga pihak manajemen mendengar hal itu. Apa yang dilakukan perusahaan? hebatnya perusahaan ini bukan mencaci apalagi mengadukan konsumen tersebut, tapi justru mengundang konsumen komplain dan diberikan ganti produknya yang lebih bagus.

Apa yang terjadi? sang konsumen melakukan kampanye yang lebih dahsyat perihal pelayanan yang memuaskan oleh perusahaan. Dampaknya perusahaan tersebut mendapat likes dari publik dan produknya pun mendapat kepercayaan yang lebih dari sebelum ada peristiwa tersebut.

Penulis: Karnoto CEO BANTEN FAMILY GROUP

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!