Ridwan Kamil: Sosok Walikota Bandung yang Menginspirasi
Published on: Minggu, 31 Januari 2016 //
SOSOK INSPIRATIF,
TOKOH POLITIK

Kamu sadar nggak, bahwa Indonesia ternyata punya beberapa tokoh walikota yang inspiratif? Salah satunya sosok muda dari Bandung ini yang bernama Pak Ridwan Kamil.
Selama ini, sosok Ridwan Kamil dikenal oleh warga Bandung sebagai seorang arsitek lulusan ITB yang melanjutkan studi S2-nya di jurusan Urban Design di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Beliau telah banyak berkarya dalam bidangnya. Museum Tsunami di Aceh adalah salah satunya.
Ada juga arsitektur Masjid Al-Irsyad yang sangat indah di pinggiran kota Bandung. Selain itu, beliau pula lah yang menjadi penggerak Bandung Creative Community Forum (BCCF) selama 10 tahun terakhir ini. BCCF sendiri merupakan sebuah wadah anak muda Bandung yang juga telah mengadakan acara-acara berskala besar di Bandung.
Nah, baru pengenalan singkat saja, Ridwan Kamil sudah terdengar keren
karena berbagai prestasinya. Yuk, kita kenal beliau lebih jauh!
BIODATA SINKAT
Nama : Mochamad Ridwan Kamil
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 4 Oktober 1971
Agama : Islam
Istri : Atalia Praratya Kamil
Anak : Camillia Laetitia Azzahra & Emmiril Khan Mumtadz
Profesi:
• Prinsipal PT. Urbane Indonesia
• Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung
• Walikota Bandung
Pendidikan:
• SDN Banjarsari III Bandung (1978-1984)
• SMP Negeri 2 Bandung (1984-1987)
• SMA Negeri 3 Bandung (1987-1990)
• Sarjana S-1 Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (1990-1995)
• Master of Urban Design University of California, Berkeley (1999-2001)
Penghargaan:
• 2004 Winner of International Design Competition Islamic Center, Beijing, RRC
• 2005 Winner of International Design Competition Waterfront Retail Masterplan, Suzhou, RRC
• 2005 Winner of International Design Competition Kunming Tech Park, Kunming, RRC
• 2006 Winner Internatonal Young Design Entrepreneur of The Year versi British Council Indonesia
• 2007 Winner of International Design Competition for Aceh Tsunami Museum
• 2008 Top Ten Architecture Business Award dari BCI Asia
• 2009 Top Ten Architecture Business Award dari BCI Asia
• 2009 Architect of The Year dari Elle Decor Magazine
• 2012 Salah satu Ikon Perubahan versi Majalah Gatra
• 2012 Pikiran rakyat Award untuk Tokoh Muda Kreative
• 2012 Google Chrome Web Heroes untuk Indonesia Berkebun
• 2012 Indonesia Green Award, Penghargaan Penginspirasi Bumi untuk Indonesia Berkebun.
• 2013 Urban Leadership Award. Penn Institute for Urban Research, USA.
MASA KECIL
Mochamad Ridwan Kamil lahir di Bandung, 4 Oktober 1971 dari pasangan Dr.
Atje Misbach, S.H. (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih. Ayah beliau
merupakan Doktor Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, sedangkan ibu
beliau adalah dosen Farmasi UNISBA dan staf ahli di LPPOM MUI Jawa
Barat. Lelaki yang akrab disapa ‘Kang Emil’ ini adalah anak ke-2 dari 5
bersaudara. Darah Sundanya berasal dari kedua orang tuanya; ayahnya asli
Subang, ibunya dari Tasikmalaya, dan kedua kakeknya berasal dari Situ
Bagendit, Garut.
Ridwan Kamil diasuh dengan nasihat untuk menjadi orang yang bermanfaat
bagi orang banyak. Moral dan etika juga dijunjung tinggi menjadi nilai
utama yang diajarkan ayah beliau yang merupakan keturunan Kiai Muhyidin
yang dikenal dengan Mama Pagelaran pendiri 3 pesantren di Sumedang dan
Subang, serta pamannya, KH Atang Abdul Quddus (alm), imam Masjid Agung
Subang serta ketua MUI Kabupaten Subang. Ridwan Kamil sendiri pernah
nyantri di Pesantren Pagelaran III yang dipimpin oleh pamannya, K.H. Oom
Abdul Qoyyum (alm).
Sejak kecil, Ridwan Kamil hidup dalam kesederhanaan layaknya masyarakat
lain. Sarapan hanya dengan menu telur dadar yang dibagi rata dengan
keempat saudaranya. Kalau mau berangkat sekolah, beliau naik angkot dari
Dago ke sekolahnya, tak jarang juga jalan kaki. Sejuk dan asrinya Jalan
Haji Juanda saat itu membuat jarak Dago Timur - Merdeka serasa dekat.
Pendidikannya dimulai dengan belajar membaca, berhitung, dan bermain di
TK Aisyiah, Jalan Dago Barat, Bandung. Kemudian, beliau melanjutkan
sekolahnya di SDN Banjarsari III Bandung dari tahun 1978-1984. Ridwan
Kamil suka berimajinasi sejak masa kecil. Beliau juga senang membaca
komik serta melihat foto-foto berbagai kota di luar negeri. Sejak kecil
pula, beliau memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi. Ketika sekolah
dasar pun, beliau sempat jualan es mambo buatannya sendiri.
Selama bersekolah, Ridwan Kamil dikenal sebagai sosok yang aktif dan
cerdas. Setelah tamat sekolah dasar, beliau kemudian melanjutkan
pendidikannya di SMP Negeri 2 Bandung. Di sekolah ini, Ridwan Kamil
mulai belajar berorganisasi. Selain belajar, beliau aktif di OSIS dan
Pramuka.
Kegiatan ini tidak menghalanginya untuk menjadi bintang kelas, justru memberikan pengalaman dan pengetahuan yang menjadi bekal jiwa kepemimpinannya ketika dewasa. Walaupun kegiatan non-akademisnya banyak, beliau selalu masuk dalam rangking 5 besar di kelasnya. Sekolahnya belanjut di SMA Negeri 3 Bandung, dari tahun 1987 hingga 1990.
Kegiatan ini tidak menghalanginya untuk menjadi bintang kelas, justru memberikan pengalaman dan pengetahuan yang menjadi bekal jiwa kepemimpinannya ketika dewasa. Walaupun kegiatan non-akademisnya banyak, beliau selalu masuk dalam rangking 5 besar di kelasnya. Sekolahnya belanjut di SMA Negeri 3 Bandung, dari tahun 1987 hingga 1990.
PERKULIAHAN
Begitu tamat SMA, Ridwan Kamil melanjutkan pendidikan tingginya di
Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung dari tahun
1990-1995. Semasa kuliah, beliau aktif dalam kelompok-kelompok mahasiswa
dan unit kegiatan seni. Semangat kewirausahaannya bangkit lagi di
kampusnya. Untuk mencari tambahan uang kuliah, beliau membuat
gambar-gambar ilustrasi dengan cat air atau maket untuk dosen.
Pada masa pengerjaan tugas akhir, ayah beliau wafat. Hal itu menjadi
tahun terberat dalam sejarah hidup beliau. Namun, berkat tekad beliau
yang kuat dan kemampuannya untuk memotivasi diri sendiri, beliau
mendapatkan nilai A++.
Lulus dari ITB, beliau sempat mengabdi selama beberapa tahun dengan mengajar di almamaternya, hingga kemudian memutuskan untuk bekerja di Amerika Serikat. Karirnya di Amerika hanya bertahan sekitar 4 bulan saja, sebelum akhirnya beliau berhenti kerja akibat terkena dampak krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu, sehingga membuat klien tidak membayar pekerjaannya.
Lulus dari ITB, beliau sempat mengabdi selama beberapa tahun dengan mengajar di almamaternya, hingga kemudian memutuskan untuk bekerja di Amerika Serikat. Karirnya di Amerika hanya bertahan sekitar 4 bulan saja, sebelum akhirnya beliau berhenti kerja akibat terkena dampak krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu, sehingga membuat klien tidak membayar pekerjaannya.
Beliau tidak langsung pulang ke Indonesia dan bertahan di Amerika
sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa di University of California,
Berkeley, dalam bidang tata kota, mulai tahun 1999 hingga 2001. Sambil
kuliah S2 di universitas tersebut, beliau bekerja paruh waktu di
Departemen Perencanaan Kota Berkeley untuk bertahan hidup di sana.
Beliau cuma makan sekali sehari dengan menu murah seharga 99 Sen.
Perjuangan seorang Ridwan Kamil untuk bertahan hidup di Negeri Paman Sam terus diuji ketika istrinya, Atalia Praratya akan melahirkan anak pertama mereka. Saat itu, Ridwan tak memiliki uang untuk membiayai persalinan istrinya, sehingga beliau harus mengaku miskin pada pemerintah kota setempat demi mendapatkan pengobatan gratis.Akhirnya, beliau pun menemani sang istri melahirkan di sebuah rumah sakit khusus untuk orang-orang miskin, tepatnya di bangsal rumah sakit. Bagi Ridwan sendiri, pengalaman jatuh – bangun hidupnya membentuk nilai-nilai tersendiri tentang betapa kerasnya perjuangan hidup.
Pada tahun 2002, Ridwan Kamil pulang ke tanah kelahirannya Indonesia,
dan 2 tahun kemudian mendirikan ‘Urbane’ yang bergerak dalam bidang jasa
konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain.
KARIER
Setelah menuntaskan pendidikannya di Amerika, Ridwan Kamil bekerja di
firma arsitektur di Amerikan Hongkong. Di Amerika, beliau akhirnya
berhasil meraih kehidupan yang layak. Tapi, ibu beliau menasihati :
"Ari neangan duitmah engke aya gantina, ari minterkeun batur tidak akan terukur nilaina.” (Kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, kalau memintarkan orang lain tidak terukur nilainya).Mendengar nasihat sang ibunda itulah, beliau pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Bandung. Beliau kembali ke ITB untuk menjadi dosen di Departemen Arsitektur ITB. Bersama mahasiswa dari jurusan Rancang Kota, Desain Produk, dan Elektro ITS, beliau menciptakan Enerbike, sebuah sepeda yang dirancang untuk menghasilkan listrik / sepeda penghasil listrik.
Bersamaan dengan itu, Ridwan juga mendirikan firma arsitektur bernama
Urbane. Firma ini dibangun pada tahun 2004 bersama teman-temannya
seperti Achmad D. Tardiyana, Reza Nurtjahja, dan Irvan W. Darwis. Urbane
sendiri merupakan singkatan dari Urban Evolution, atau bisa juga
dibilang singkatan dari Urang Bandung Euy.
Melalui perusahaannya inilah, beliau menggarap berbagai proyek baik itu di Indonesia maupun mancanegara. Konsep arsitektur yang diusung adalah “green system”, yang responsif terhadap lingkungan serta nilai artistik, sehingga menjadikan firma ini masuk dalam daftar 10 firma arsitektur terbaik di Indonesia.
Melalui perusahaannya inilah, beliau menggarap berbagai proyek baik itu di Indonesia maupun mancanegara. Konsep arsitektur yang diusung adalah “green system”, yang responsif terhadap lingkungan serta nilai artistik, sehingga menjadikan firma ini masuk dalam daftar 10 firma arsitektur terbaik di Indonesia.
Sekarang, Ridwan Kamil aktif menjabat sebagai Prinsipal PT Urbane
Indonesia, dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung,
serta senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San
Fransisco), dan SAA (Singapura).
Bicara mengenai reputasi pun jangan ditanya lagi. Reputasi internasional telah mereka raih dengan mengerjakan proyek-proyek di luar Indonesia seperti Syria Al-Noor Ecopolis di Syria dan Suzhou Financial District di China. Tim Urbane sendiri terdiri dari para profesional muda yang kreatif dan idealis dalam mencari dan menciptakan solusi mengenai masalah desain lingkungan dan perkotaan.
Urbane juga memiliki proyek yang berbasis komunitas dalam Urbane Proyek
Komunitas, di mana visi dan misinya adalah membantu orang-orang dalam
sebuah komunitas perkotaan untuk memberikan donasi serta
keahlian-keahlian dalam meningkatkan potensi daerah sekitarnya.
Melalui firma arsitektur Urbane, karya-karya Ridwan Kamil tersebar di
berbagai daerah seluruh nusantara dan mancanegara. Mulai dari masjid
yang terbuat dari batako berbahan abu letusan Gunung Merapi, Musium
Tsunami di Aceh, sekolah anti-gempa di Pangalengan Bandung, kawasan elit
di Kuningan Jakarta, Superblok di Cina, hingga sebuah rancangan kawasan
di Syria.
Lebih dari 20 penghargaan yang berhubungan dengan karya arsitektur dan
tata kota telah beliau raih, baik itu anugerah penghargaan dari media
nasional maupun internasional, seperti BCI Asia Awards 3 tahun
berturut-turut pada 2008, 2009, 2010 dan juga BCI Green Award pada tahun
2009 atas proyek desain Rumah Botol (dari botol bekas).
Rancangan Masjid Al-Irsyad yang beliau persembahkan untuk almarhum
ayahnya mendapatkan Top 5 Best Building of The Year 2010 oleh ArchDaily,
dan menjadi salah satu dari 25 masjid terindah di dunia versi Complex
Magazine.
Bukan hanya berkarya dan kaya akan penghargaan saja, Urbane juga sering
mengikuti kompetisi di bidang desain arsitektur tingkat nasional dan
menjadi juara. Contohnya adalah Juara 1 Kompetisi Desain Musium Tsunami
di Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2007, Juara 1 Kompetisi Desain
Kampus 1 Universitas Tarumanegara pada tahun 2007, Juara 1 Kompetisi
Desain Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia pada tahun 2009,
Juara 1 Kompetisi Desain Sanggar Nagari di Kota Baru Parahyangan di
Kabupaten Bandung Barat, dan Juara 1 Kompetisi Desain Pusat Seni dan
Sekolah Seni di Universitas Indonesia pada tahun 2009.
Pada bulan Maret, Ridwan Kamil menjadi salah satu di antara 2 orang yang mendapatkan penghargaan “Urban Leadership Award”
Universitas Pennsylvania. Mereka terinspirasi kinerja dan kreatifitas
Ridwan Kamil dalam membangun kota dengan menggerakkan partisipasi
komunitas dan warga.
Penerima penghargaan satunya adalah Walikota Barcelona. Penghargaan ini melengkapi 35 penghargaan lain yang telah dia raih dalam 9 tahun terakhir. Beliau telah menjelajahi 100 kota di dunia. Beliau banyak mengamati dan mempelajari bagaimana manusia dari berbagai belahan dunia membangun peradaban, merancang, dan memelihara kota mereka.
Bahkan beliau terlibat dalam menata ulang sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara. Karya-karya beliau telah dihargai di mata dunia. Oleh karena itu, sekarang mari kita beri kesempatan pada beliau untuk mengabdikan jiwa dan ilmunya bagi tanah ibu pertiwi.
Penerima penghargaan satunya adalah Walikota Barcelona. Penghargaan ini melengkapi 35 penghargaan lain yang telah dia raih dalam 9 tahun terakhir. Beliau telah menjelajahi 100 kota di dunia. Beliau banyak mengamati dan mempelajari bagaimana manusia dari berbagai belahan dunia membangun peradaban, merancang, dan memelihara kota mereka.
Bahkan beliau terlibat dalam menata ulang sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara. Karya-karya beliau telah dihargai di mata dunia. Oleh karena itu, sekarang mari kita beri kesempatan pada beliau untuk mengabdikan jiwa dan ilmunya bagi tanah ibu pertiwi.





