Big News Times

Just another Blogger Template by Basnetg.com

Basnetg.com - Premium Blogger Templates

Hadapi Gelombang PHK, Maukah Jokowi Lakukan Ini?

Published on: Jumat, 05 Februari 2016 //

Gelombang hengkangnya sejumlah perusahaan multi nasional niscaya akan menambah tumpukan karyawan terkena PHK yang sudah terjadi sejak setahun lalu. Kenyataan ini jelas sangat kontras dengan informasi dari sementara media bahwa Indonesia kian menarik bagi investasi. Peristiwa 'angkat kaki alias gulung tikar' itu merupakan fakta tak terbantahkan bahwa iklim investasi di negeri ini tak kondusif.

Ini merupakan bagian dari tantangan serius dari pemerintahan Jokowi. Karena dampaknya sangat luas dirasakan masyarakat sehingga beban sosial dan kian berat, atau maslah sosial akan kian rumit. Apalagi pada saat yang sama ketimpangan sosial kian lebar, jumlah warga miskin kian bertambh, akibat dari melonjaknya harga pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Pemerintahan Jokowi tak boleh mengabaikan ini. Karena rakyat yang mengalami masalah harus cepat dicarikan jalan keluarnya. Singkatnya, rakyat harus dilayani agar dapat hidup dengan layak dan sejahtera.

Dalam kaitan itu, Presiden Jokowi perlu mempertimbangkan atau melakukan 4 (empat) kebijakan strategis.

1. Perbanyak atau genjot proyek-proyek padat karya, yang memiliki daya serap tinggi. Program spti ini terbukti manjur dalam melewati krisis di awal era reformasi.

2. Fungsikan BUL (Badan Layanan Umun) yang ada di sejumlah instansi. Selama ini peran BUL tak signifikan menghidupkan ekonomi rakyat, padahal dana yang tersedia sangat banyak. Masih ada tradisi mempersulit melayani kebutuhan rakyat.

3. Bangun kemitraan dengan pebisnis yang tak mempersulit agenda-agenda investasi mereka. Tidak bermusuhan, atau mengeksploitasi mereka, sebagaimana kerap terjadi hingga hari-hari ini. Justru pemerintah harus semangati pebisnis untuk perbanyak investasi berdaya serap tenaga kerja yang tinggi.

4. Fasilitasi kelompok-kelompok yang terkena PHK untuk mengembangkan usaha produktif.

5. Cegah masuknya tenaga kerja asing jika keperluan pekerjaan bisa ditangani oleh tenaga kerja lokal.

Sumber: teropongsenayan

Penyelesaian Konflik Politik ala Aburizal Bakrie

Published on: Senin, 01 Februari 2016 //
 
Saat suara pengurus DPD I ragu dan gamang, Aburizal Bakrie, justru mengumpulkannya dan mengajak mereka bermusyawarah dan bermufakat memilih Munaslub sebagai jalan menyelesaikan kisruh partai. Inilah cara terbaik yang dipercayai mengatasi persoalan partai.
Padahal dengan Munaslub dia akan lengser sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Diapun menyadari sepenuhnya konsekuensinya. 

Seperti dia katakan akan 'tut wuri handayani' (membibing dari belakang). Dan akan mendorong kaum muda untuk bersaing secara demokratis menggantikannya. Suasana pertemuan kemarin sore itu sangat emosional. Bahkan beberapa diantaranya ada yang tak rela dengan pilihan Munaslub. Namun Aburizal menjaminnya bahwa itulah terbaik. Dia juga menjamin tidak akan meninggalkan partai ini dan memastikan tetap menjadi bagian Golkar meski lengser dari posisi Ketua Umum.

Kisruh yang mendera partai beringin kali ini memang tergolong pelik. Banyak faktor yang berkelindan. Baik internal maupun eksternal. Berbagai upaya ditempuh tak segera menyelesaikan masalah. Bahkan nyaris seperti benang kusut atau seperti gelapnya malam pekat yang tak memberikan harapan.

Namun Aburizal adalah organisator tulen. Sikapnya tak mudah tergiur dan oleh oleh godaan dan hempasan badai. Dia tetap memilih memegang teguh dan menegakkan serta mempertahankan aturan organisasi atau AD/ART partai. Meski konsekuensinya amat berat dan tidak ringan.

Tidak sedikit energi yang dia korbankan dan habiskan menghadapi kisruh internal partai selama setahun lebih sedikit ini. Baik materiil maupun non materiil. Bahkan tidak sedikit yang menilainya sebagai politisi kupeg atau kaku. Tidak fleksibel dan kurang pandai bermanuver serta terlalu polos.

Aburizal sejatinya tetap memilih jalur hukum untuk menyelesaikan krisis politik yang melanda Partai Golkar. Dia berpendirian bahwa dalam demokrasi maka supremasi hukum adalah yang utama. Maka dipilihlah jalur hukum melalui peradilan. Dengan sabar diajaknya seluruh kader menempuh proses hukum ini.

Namun, setahun lebih proses hukum yang memakan dan menguras energi dan emosi itu tak juga berujung pada penyelesaian krisis politik Partai Golkar. Padahal, masih banyak agenda-agenda politik nasional yang harus dihadapi oleh partai. Baik Pilkada 2017, Pemilu 2019 serta masa depan partai.

Realitas politik tak bisa dihindari. Pengorbanan Aburizal mengantarkannya pada pilihan bahwa proses politik dibutuhkan untuk mengakhiri krisis politik partai yang dipimpinnya. Kendati pahit, Aburizal memilih menerima realitas politik kekuasaan mengalahkan supremasi hukum untuk menuntaskan kisruh internal partai.

Meski ikut berada didalamnya, Aburizal tak ingin larut dalam arus deras pertikaian politik. Dia juga tak ingin menyalahkan kusut dan gelapnya malam persoalan kisruh internal partai yang dipimpinnya. Meski mengakui pahit, Aburizal memilih menyalakan lilin agar ada cahaya untuk menuju jalan keluar menyelesaikan kisruh Partai Golkar.

Tak mudah memang. Bukan hanya bagi Aburizal, namun sejatinya juga bagi bangsa ini. Sebab, kisruh yang dialami Partai Golkar adalah sejarah baru dalam langit politik di tanah air. Aburizal memilih meninggalkan legacy penyelesaian krisis politik yang baik dan elegan. Sang waktu yang mencatat dan mengujinya.(*)

Sumber: teropongsenayan
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!