Big News Times

Just another Blogger Template by Basnetg.com

Basnetg.com - Premium Blogger Templates

Di Balik Kemenangan Airin di Pilkada Kota Tangsel

Published on: Senin, 01 Februari 2016 // ,
 

BANTENPERSPEKTIF-TANGERANG SELATAN-Sebagian besar publik di luar Kota Tangerang Selatan, Banten, pasti menduga kalau kemenangan Airin Rachmi Diany adalah karena soal fulus semata. Namun setelah digali ternyata penentunya bukan faktor amunisi semata, namun ada hal lain yaitu personal branding yang didesain oleh tim sukses Airin.

Kalau melihat faktor fulus jelas harta Airin berkurang jika dibandingkan dengan masa Pilkada sebelumnya. Dalam catatan resmi yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Banten dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) 10 calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah se-Banten. Airin Rachmi Diany (Calon Wali Kota Tangsel) sesuai dengan laporan terakhir tertanggal 23 Juli 2015 memiliki kekayaan senilai Rp 84,005 miliar.

Jumlah harta kekayaan tersebut menurun setelah suaminya Tb Chairi Wardana tersangkut tindak pidana korupsi. Sebelumnya, berdasarkan LHKPN pertanggal 24 Agustus 2010, Airin mempunyai kekayaan Rp103 miliar. Kondisi Airin juga sedang dalam terpaan yang begitu hebat, dimana Tb Chairi Wardana, sang suami masih dalam penjara karena tersangkut pidana. Sementara kaka ipar yang tak lain adalah mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah juga sedang dipenjara.


Lalu apa yang menyebabkan Airin masih unggul di tengah kondisi seperti itu? Jawabannya adalah personal branding Airin. Airin didesain sebagai wanita dari keturunan baik-baik, Airin adalah korban, Airin adalah sosok ibu yang perlu mendapat simpati dan iba karena tabah di tengah terpaan yang begitu hebat. Semakin ada pihak yang menyerang Airin maka sesungguhnya itu yang menjadi "harapan" karena akan semakin menumbuhkan rasa simpatik terhadap Airin.

Selain itu, personality Airin secara fisik juga mendukung. Airin cantik, bertutur lemah lembut dan lebih tenang ketika menghadapi berbagai terpaan. Hal ini wajar mengingat Airin adalah mantan finalis Puteri Indonesia, dimana biasanya pada proses karantina para finalis dididik tentang etika, atitued dan keterampilan keperibadian lainnya.
Airin tak pernah menyerang lawannya yang melakukan serangan bertubi-tubi, ia dan dibantu tim justru terkesan mengharapkan hal itu karena peluru itu justru yang sebetulnya bisa menjadi senjata makan tuan bagi orang yang meluncurkan peluru tersebut. Jika dikaitkan dengan aspek psikologi pemilih Indonesia, fenomena ini terjadi berulang-ulang kali. 

Masih ingat dengan SBY yang ketika itu dibranding sebagai tentara ganteng yang layak mendapat simpatik karena "diusir" dari Megawati? atau teranyar Jokowi yang dikesankan mendapat serangan, seperti keturunan China, beragama non Islam dan  lainnya. Namun lagi-lagi itu justru yang kemudian dikelola oleh tim dan menjadi peluang untuk mendapatkan simpati dari pemilih. 

Strategi marketing seperti ini sebetulnya sudah sering dilakukan oleh produk komersial. Jika Anda pernah membaca kisah salah satu produk yang mendapat protes dan keluhan dari seorang customer, karena dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi. 

Sang konsumen menuliskan kisah buruknya ke relasinya sehingga pihak manajemen mendengar hal itu. Apa yang dilakukan perusahaan? hebatnya perusahaan ini bukan mencaci apalagi mengadukan konsumen tersebut, tapi justru mengundang konsumen komplain dan diberikan ganti produknya yang lebih bagus.

Apa yang terjadi? sang konsumen melakukan kampanye yang lebih dahsyat perihal pelayanan yang memuaskan oleh perusahaan. Dampaknya perusahaan tersebut mendapat likes dari publik dan produknya pun mendapat kepercayaan yang lebih dari sebelum ada peristiwa tersebut.

Penulis: Karnoto CEO BANTEN FAMILY GROUP

Panas-Dingin, Dingin-Panas Hubungan PKS-Keluarga Atut

Published on: // ,
BANTENPOLITICAL, SERANG-Politik memang seni, filosofi atau pengertian ini ada benarnya. Sebab kalau tidak dimaknai sebagai seni maka yang ada seseorang akan sport jantung, mengingat politik kadang seperti termos, dingin di luar panas di dalam. Namun kadang juga seperti main layang-layang, tarik ulur dan sangat ditentukan oleh kemampuan pemainnya. Kapan dia harus ditarik, kapan dia harus diulur, dilihat dari kondisi alam yang terjadi ketika itu.

Mungkin inilah filosofi untuk menggambarkan hubungan PKS dan keluarga Ratu Atut Chosiyah. Saat Pilkada Banten, dimana Zulkieflimansyah-Marisa Haque "bertanding" melawan Atut-Maksudi, hubungan keduanya cukup panas. Apalagi, waktu itu PKS "dikeroyok" dan duel karena hanya ada dua pasangan yaitu Zulkieflmasnyah melawan Atut. Selang beberapa waktu, hubungan keduanya mulai baikan ketika ada momen Pilkada Kota Serang, dimana PKS menyerahkan dukungan kepada TB Chaerul Jaman, adik tiri Atut atau paman tiri Andika Hazrumy.

Tak lama kemudian, hubungan keduanya memanas kembali ketika Atut-Rano Karno "bertanding lagi" dengan PKS yang waktu itu mengusung Jazuli Juwaeni.  Kondisi panas kembali reda ke suhu normal ketika ada momentum Pilkada serentak 2016, dimana dari tiga kabupaten dan kota keluarga Atut maju maka disitu PKS selalu mendukungnya. Hubungan panas-dingin ini sesuatu hal lumrah dalam berpolitik, tak heran para pakar psikologi menyarankan kalau seseorang tidak siap mental jangan berani coba-coba terjun ke politik kalau tidak ingin sport jantung dan akhirnya mengibarkan bendera putih, pertanda menepi dari aktivitas politik.

Dan di tahun 2017 ini, ada momentum Pilkada Banten untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. Akankah hubungan yang sedang dingin ini kembali memanas? Lagi-lagi elit kedua partai inilah yang menentukan. Yang pasti masing-masing telah memiliki calon masing-masing. PKS punya jagoan dua orang yang potensial, yaitu Zukieflimansyah dan Anton Apriantono, mantan Menteri Pertanian. Sementara itu, keluarga Atut memiliki sang pangeran, Andika Hazrumy. Meski Andika belum tentu yang dimajukan karena masih tahap tes pasar.

Zul sudah punya pengalaman pahit bertanding melawan keluarga Atut. Secara aspek psikologis, Zul merasakan betul "hantaman" dan repotnya melawan keluarga Atut. Wajar kalau beberapa kali statement Zul sering memuji Andika, mungkin karena pernah merasakan langsung pengalaman pahit.

Di Rakorwil PKS, Zulkifliemansyah "Mesra'" dengan Andika, Sekufukah Mereka?

Published on: // ,
POLITICALBANTEN-KOTA SERANG-Hari ini (Minggu, 31 Januari 2016) DPW PKS Banten, menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil). Ada yang menjadi pusat perhatian publik, yaitu bertemunya kedua nama yang digadang-gadang bakal maju pada Pilkada 2017.

Ia adalah Zulkieflimansyah dan Andika, keduanya tampak "mesra" bahkan mereka sempat foto bersama sambil menggenggam tangan satu sama lainnya, layaknya calon yang sedang deklarasi pencalonan. Dilihat dari beberapa Pilkada Kabupaten dan Kota di Banten, PKS memang selalu mendukung keluarga Ratu Atut Chosiyah. 

Di Kabupaten Serang, PKS mendukung bibi Andika, yaitu Ratu Tatu Chasanah, di Tangerang Selatan pun PKS mendukung Airin Rachmi Diany yang tak lain istri Tb Chairi Wardana, paman Andika. Hanya pada pemilihan Gubernur dua kali PKS bersebarangan, yaitu saat sang ibunda Andika, Ratu Atut Chosiyah melawan Zulkieflimansyah dan ibu Andika menang. 


Waktu itu Zul berpasangan dengan Marisa Haque. Lalu pada empat tahun lalu di Pilkada Banten, PKS kembali bersebarangan dan lagi-lagi kalah dengan ibunda Andika ketika PKS memasang Jazuli Juwaeni.Publik pasti bertanya-tanya, apakah di momentum Pilkada Banten, PKS justru akan bersanding dengan Andika, seperti pada Pilkada kabupaten dan kota beberapa bulan lalu?.  

Mungkinkah mereka sekufu (setara-red) dalam artian bukan hanya sekadar basa-basi? atau justru PKS akan mendukung Andika kendati tidak berpasangan dengan kader PKS? Publik sama-sama menunggu keputusan elit di masing-masing kedua partai. Namun jika dilihat dari "permainan" di Pilkada kabupaten dan kota selama ini, posisi PKS hanya sebagai penggembira meskipun memiliki kader potensial untuk disandingkan dengan keluarga Andika.
Di Kabupaten Serang, misalnya, sosok Muhammad Najib Hamas justru "tersingkir" oleh Pandji Tirtayasa. Padahal sosok Najib ketika itu menurut sebagian besar kader PKS dan kalangan birokrasi di Pemkab Serang, ia laik mendampingi Tatu. Tak hanya itu, PKS di Kabupaten Serang juga sama-sama memiliki posisi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang. 

Itulah politik, segalanya bisa berubah dalam hitungan detik. Dan yang pasti, politik tidak terlalu hirau soal kecerdasan akademik. Kompetensi dan kecerdasan ilmiah sering terkubur oleh kecerdikan dalam meyakinkan  termasuk kemampuan mengendalikan "permainan".
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!